Friday, April 21, 2017

International Students Gathering


Bersama Duta Besar Republik Bolivaria Venezuela untuk Indonesia, Madam Gladys pada Jumat (21/4/2017) petang dalam gelaran International Students Gathering di Gedung Merdeka bersama puluhan mahasiswa anggota Young African Ambassadors in Asia dan Asian Students Association in Indonesia

Beliau dalam kapasitas mewakili Venezuela yang kini menjadi salah satu Ketua Bersama Troika GNB membagikan berbagai perkembangan terkini perihal peran GNB, terutama dalam isu Peace and Security.

Selama diskusi entah kenapa nama Acemoglu dan Robinson yang menulis “Mengapa Negara Gagal?” terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Selain itu, berbagai debat kritis antara Teori Dependensi dan Neo-Dependensi berkali-kali menghantam kepala saya.

Thursday, August 4, 2016

Presiden Republik Guinea Kunjungi Museum KAA


Presiden Republik Guinea, Y.M. Alpha Condé menapak tilas Semangat Bandung di Museum KAA, Kamis (04/08/2016). Selama satu jam Y.M. Alpha Condé menelusuri espisode demi episode perjalanan kelahiran Semangat Bandung.

Guinea merdeka hanya dua tahun pasca KAA, Februari 1958. Segera setelahnya Guinea terlibat aktif dalam pergerakan revolusi yang menabuh genderang maut Dasasila Bandung. Ahmed Sékou Touré, Presiden pertama Guinea sukses menghelat Konferensi Kesetiakawanan Rakyat Asia Afrika pertama di Kota Konakri, Guinea pada tahun 1958.

Dalam konferensi itu tokoh-tokoh kemerdekaan Afrika bersatu padu merumuskan pola perjuangan Afrika. Berangkat dari nilai persatuan Mama Africa, Rastafarian Movement, dan norma baru Dasasila Bandung, hasil-hasil kesepakatan Konferensi Kesetiakawanan Rakyat Asia Afrika dilembagakan dalam bentuk Dewan Kesetiakawanan Rakyat Asia Afrika.

Dewan ini pada tanggal 10 April 1961 menggelar pertemuan tingkat tinggi di Bandung. Kala itu Ahmed Sékou Touré menginjakkan kaki di Tanah Parahyangan. Bersamanya, ada belasan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan asal Afrika. Dua di antaranya kelak menentukan masa depan Afrika, yaitu Madiba Keita (Mali), dan Kwame Nkrumah (Ghana).

 Kehadiran Y.M. Alpha Condé di Bandung merupakan bagian dari rangkaian kegiatan konferensi Islamic World Economic Forum.

Tuesday, October 21, 2014

SBY Kunjungi Museum KAA



Sembilan bulan sebelum perhelatan KTT Asia Afrika April 2005 di Bandung, saya dengan berseragam Satpam sempat mencicipi tidur di halaman belakang rumah SBY. Pos jaga saya adalah sebuah mobil Kijang milik salah satu televisi swasta nasional di bilangan Sudirman lengkap dengan perlengkapan studio. Mobil itu parkir di bawah pohon jengkol. Di dalamnya, dengan berselimut angin malam dan beratapkan langit berbintang, saya nyaris tak memicingkan mata semalam suntuk.

Pasalnya, kegaduhan demi kegaduhan tak kunjung henti dari awak media. Suara-suara itu membuat hingar bingar suasana malam di sekitar kediaman SBY di Cikeas. Ya, kala itu sedang berlangsung proses penghitungan suara hasil Pemilu 2004. Menjelang fajar menyingsing, saya tak sengaja berpapasan dengan SBY di jalan menuju mushala. Ia tersenyum ke arah saya dan berkata “Dari media mana, Mas?”.

Jumat, 23 April 2005 sekira pukul 22.00WIB di pintu masuk Gedung Merdeka, saya kembali berjumpa SBY. Head of Organizing Committee KTT Asia Afrika menugaskan saya sebagai LO untuk kepala negara dan pemerintahan yang bertutur dalam Bahasa Perancis. Sejurus kemudian, SBY berbicara ke arah saya, “LO untuk Bahasa Perancis ada ya? Coba perkenalkan diri kamu dalam Bahasa Perancis,”.

Agustus 2012 saya kembali berjumpa SBY. Saat itu SBY membuka resmi acara Kebangkitan Teknologi Nasional di Gedung Merdeka. Di luar dugaan SBY menyapa saya yang berdiri di sekitar karpet merah menuju area pameran. “Selamat Pagi,” ujarnya sambil tersenyum khas. Tetiba muncul keberanian entah dari mana, saya menghampirinya dengan menyodorkan tangan kanan. Ia menjabat arat sambil menatap hangat ke arah saya.

“Pak SBY, demi Solidaritas Rakyat Asia Afrika, izinkan saya memperlihatkan sejarah panjang perjuangan bangsa Asia Afrika dan Gerakan Nonblok!”. 

Ia menjawab, “Lanjutkan!”.

Sekira 30 menit kami berkeliling ke seluruh ruang pameran tetap dan temporer Museum KAA. Sekilas saya merasakan sifat pembelajarnya yang baik. Banyak pertanyaan di luar dugaan saya. Salah satunya adalah tentang Colombo Power.

Di penghujung tur, SBY berhenti sejenak dan menggenggam erat kedua tangan saya sambil berkata, “Jaga terus Semangat Bandung. Teruskan dan sebarluaskan semangat ini.” Ada beberapa kata lagi yang saya sengaja tidak tampilkan di sini.

Usai ia pamit, di belakang saya secara bergantian rombongan presiden itu menyalami saya sambil mengucapkan selamat. Kalimat Julian Adrian Pasha yang paling saya ingat. “Jarang-jarang lho Bapak begitu!” pungkasnya.

Monday, March 5, 2012

Bung Nur Misuari



Sosok ini sempat saya baca di majalah Tempo sekitar tahun-tahun berakhirnya era Perang Dingin. Dalam salah satu halaman ia berpose bersama pasukannya di pesisir pantai sambil mengacung-acungkan senapan AK-47. Kalau tak salah pasukan itu ia namai Baracuda.

Tak hanya itu, kepada juru foto Tempo ia pula memperlihatkan koleksi sepucuk pistol dengan gading pada bagian genggaman. Menurutnya, itu adalah cinderamata dari Bung Karno saat dirinya menghadiri Konferensi Islam Afrika Asia di Bandung.

Akan tetapi semua kesan angker itu sirna saat berbincang-bincang bersamanya. Dengan suara rendah khas Makassar, ia berkisah banyak hal, terutama impian Jose Rizal tentang Asia Tenggara Bersatu alias Mandala State.

Para pria di sekelilingnya adalah sebagian kecil dari pasukan Baracuda yang saya lihat di halaman Tempo nyaris dua puluh delapan tahun lalu.