Gubernur Provinsi Setif Aljazair dan rombongan delegasi Parlemen Aljazair menapak tilas jejak bapak bangsa Aljazair di KAA pada Sabtu, 14 Oktober 2017 di Museum KAA - Gedung Merdeka. Kunjungan itu turut pula didampingi Duta Besar LBBP RI untuk Aljazair Ibu Safira Machrusah.
Dalam Bahasa Perancis yang indah, ia mengatakan solidaritas yang lahir di Bandung adalah ruh perjuangan mereka.
62 Tahun silam Aljazair, Maroko, dan Tunisia hadir sebagai peninjau. Kehadiran mereka merujuk pada kategori undangan negara peserta KAA yang disepakati 5 Perdana Menteri Sponsor KAA di Konferensi Panca Perdana Menteri Bogor 1954, yakni perwakilan asal negara yang belum merdeka, dan belum berpemerintahan sendiri namun telah memiliki organisasi perwakilan. Adalah Yazid, Ait Ahmad, dan Lakhdar Brahimi delegasi peninjau asal Aljazair di KAA 1955.
Selama perang kemerdekaan berlangsung di Aljazair, tokoh-tokoh Aljazair mendapat perlindungan pemerintah Indonesia. Mereka mendiami sebuah rumah dinas di bilangan Cik Ditiro Jakarta.
Bahkan menurut Prof. Dr. KH Mahmud Syaltout KBRI Paris menjadi salah satu tempat perumusan persiapan kemerdekaan Aljazair.
Pada tahun 1969 Aljazir berpihak pada Indonesia di SU PBB dalam soal Pepera. Namun, pada peristiwa Timor Timur Aljazair seolah tak percaya pada keputusan Indonesia hadir di negeri Loro Sae itu.

No comments:
Post a Comment