Keterangan Foto:
Dari kanan ke kiri: Sapta Dwikardana, Ph.D., Kaprodi HI Unpar Sylvia Yazid, Ph.D., Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie, M.DAT, Rektor Unpar Mangadar Situmorang, Ph.D., Direktur Informasi dan Media Kemenlu Listiana Operananta, Sukawarsini Djelantik, Ph.D., Anggia Valerisha, M.Si, dan Bujang Ringam Nian.
===
Tuhan mungkin telah mengirimkan Mas Mangadar untuk mengabarkan kerendahan hati dalam berilmu kepada saya dan Oppa Lee jauh sebelum Beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Katolik Parahyangan.
Alkisah usai UTS, saya duduk diam termenung di kelas Beliau sambil membolak balik lembar jawaban UTS yang makin lusuh lantaran dibaca berulang kali. Di sisi kanan saya terdengar dengus nafas dari seorang oppa-oppa asal Korea Selatan yang kebetulan sama-sama sedang ‘ngangsu elmu lan kaweruh’ dari Beliau.
“Dapat berapa kamu?” ujar Oppa Lee yang konon kemudian hari jadi salah seorang pejabat teras di Kementerian Reunifikasi di Negeri Ginseng kepada saya sambil menatap nanar.
“(dapat) 33!” balas saya dengan suara tak bergairah. “Kamu (dapat) berapa, Oppa?” timpal saya kepadanya.
“Haha...saya (dapat)30!” jawabnya dengan lirih.
“Ah, ada yang lebih kecil lagi,” saya bergumam dalam hati sambil tertawa geli.
Sejak itu, kami makin jarang bertemu akibat (mungkin) masing-masing sibuk berkontemplasi demi transformasi dari wujud ‘jejaden jalmi’ menjadi ‘manungsa’ agar menjadi manusia yang seutuhnya sekaligus beriman dan bertakwa kepada-Nya.
Usai sesi foto bersama pekan lalu, Mas Mangadar dengan gayanya yang bersahaja seperti biasa menghampiri saya sambil berujar, “Mana surat rekomendasi yang aku harus teken? Katanya mau ke Sorbonne?”
Pertanyaan ini terasa lebih berat dari soal UTS di kala silam bersama Oppa Lee.
Dah segitu aja.

No comments:
Post a Comment