Rabu, 11 Juli 2018, Pkl. 16.30-20.00WIB di Sekretariat Sahabat
Museum KAA, mari ngobrol-ngobrol sore bersama Asian-African Reading
Club.
Begini kisahnya.
Sekian tahun silam, Mas Nyoman menyodorkan sebuah pertanyaan sederhana, "Mengapa kata solidaritas dipakai oleh negara Asia dan Afrika?".
Sebelumnya, Mas Bob telah mendahului bertanya kepada saya. Sambil menatap saya tajam saat menghadapnya, beliau berujar, "Solidaritas itu tak pernah ada. Itu yang kamu harus buktikan, Bung."
Dua pertanyaan mendasar ini saya temukan jawabannya dalam wawancara bersama Bapak Ramli Saud di sebuah sore yang cerah di sebuah perguruan tinggi bergengsi di bilangan Sudirman di Jakarta.
Hasil wawancara itu saya bandingkan dengan hasil riset Leo Suryadinata. Blaaaar! Mas Poer membantu rekonstruksi argumentasi ini.
Secara tak sengaja saya juga dibantu oleh seorang pustakawan di bilangan Pejambon. Ia menunjukkan kepada saya sejumlah hasil FGD internal yang mengulas rendahnya perhatian PLN RI terhadap benua Afrika.
Koffi Anan dalam sebuah artikel yang menarik pada tahun 2012 menjelenterehkan bahayanya pola hubungan Asia dan Afrika yang makin menuju ke pola asimetris. Untuk itu, ia menjuduli artikelnya dengan "How Asia can help Africa?"
Secara khusus ada dua faktor utama yang besok akan didiskusikan bersama para pegiat literasi Asian-African Reading Club.
Dah segitu aja dulu!

No comments:
Post a Comment