Tuesday, July 10, 2018

Mitos Solidaritas Asia Afrika

Rabu, 11 Juli 2018, Pkl. 16.30-20.00WIB di Sekretariat Sahabat Museum KAA, mari ngobrol-ngobrol sore bersama Asian-African Reading Club.


Begini kisahnya.

Sekian tahun silam, Mas Nyoman menyodorkan sebuah pertanyaan sederhana, "Mengapa kata solidaritas dipakai oleh negara Asia dan Afrika?".

Sebelumnya, Mas Bob telah mendahului bertanya kepada saya. Sambil menatap saya tajam saat menghadapnya, beliau berujar, "Solidaritas itu tak pernah ada. Itu yang kamu harus buktikan, Bung."

Dua pertanyaan mendasar ini saya temukan jawabannya dalam wawancara bersama Bapak Ramli Saud di sebuah sore yang cerah di sebuah perguruan tinggi bergengsi di bilangan Sudirman di Jakarta.

Hasil wawancara itu saya bandingkan dengan hasil riset Leo Suryadinata. Blaaaar! Mas Poer membantu rekonstruksi argumentasi ini.

Secara tak sengaja saya juga dibantu oleh seorang pustakawan di bilangan Pejambon. Ia menunjukkan kepada saya sejumlah hasil FGD internal yang mengulas rendahnya perhatian PLN RI terhadap benua Afrika.

Koffi Anan dalam sebuah artikel yang menarik pada tahun 2012 menjelenterehkan bahayanya pola hubungan Asia dan Afrika yang makin menuju ke pola asimetris. Untuk itu, ia menjuduli artikelnya dengan "How Asia can help Africa?"

Secara khusus ada dua faktor utama yang besok akan didiskusikan bersama para pegiat literasi Asian-African Reading Club.

Dah segitu aja dulu!

Thursday, July 5, 2018

Museum di Tapal Batas Negeri



Museum Kapuas Raya adalah museum di negeri tapal batas. Berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Museum ini didirikan atas hasil kerja sama antara Museum Tropen Belanda dan Pemerintah Kabupaten Sintang pada tahun 2008 silam. Koleksi yang dimiliki merepresentasikan kerukunan antara tiga etnis besar di Kabupaten Sintang, yakni Dayak, Melayu, dan Tionghoa.

Ada empat ruang pameran, yaitu Sejarah Sintang, Kebudayaan Sintang, Tenun Ikat, dan Sejarah Lambang Negara. Selain itu, terdapat pula satu buah perpustakaan dengan koleksi buku-buku tentang sejarah dan kebudayaan Sintang.

Museum yang telah berusia hampir satu dasawarsa ini kerap menjadi tuan rumah pameran internasional negara-negara Asia Tenggara. Hampir setiap tahun pengelola museum ini juga menghadiri berbagai perhelatan museum internasional.

Program publik di museum ini juga dikembangkan untuk melibatkan masyarakat melalui Sahabat Museum.

Satu lagi, saya merasa memiliki keluarga di sini. Tak lupa sambal nanas dan sayur nanas berikut ikan seluang gorengnya membuat saya terhenyak ke masa kecil di Tanjung Enim.

Terakhir, bahasa di Sintang membuat rindu kepada kampung halaman di kaki Bukit Barisan.

Monday, July 2, 2018

Hirarki di Asia Timur

Sabtu petang, 23 April 1955 di Gedung Dwi Warna Bandung PM Zhou Enlai di luar dugaan menyatakan bersedia berdialog dengan AS demi stabilitas kawasan Asia Timur.

Melihat manuver itu, PM Ali Sastroamidjojo lantas meminta kesediaan PM Zhou Enlai sekali lagi mengulangi pernyataan itu dalam sebuah konferensi pers yang dihelat di bilangan Ciumbuleuit.

Ratusan wartawan asal media nasional dan internasional berlomba-lomba mengabarkan kehebohan Ciumbuleuit itu melalui radiogram di Kantor Pos Besar Bandung. 

Sayangnya John Foster Dulles tak memanfaatkan kesempatan itu. Baru kemudian di tahun 1972 Nixon berkenan membuka dialog dengan PM Zhou Enlai. Pertemuan itu melahirkan kesepakatan yang banyak mengutip sila-sila Dasasila Bandung.

Salah satu isi kesepakatan itu adalah PM Zhou Enlai menjamin kesediaan seluruh aktor di Asia Timur untuk bersikap kontra aliansi tanpa aliansi demi masa depan Asia Timur yang berdaulat, aman, dan sejahtera.

Genealogy hirarki di Asia Timur lahir dari kesepakatan itu.

Saturday, June 9, 2018

Sosok Penting di Balik Perang Indochina


Jenderal Võ Nguyên Giáp (Republik Demokratik Vietnam) terbukti lebih unggul strategi perangnya dibanding Jenderal Henri Eugène Navarre (Perancis) di Perang Indochina I.

Kekalahan Perancis itu telah mendorong munculnya pertemuan yang membahas nasib Indochina di Jenewa pada akhir April 1954. RRT yang diwakili Zhou Enlai mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari para delegasi Blok Barat selama pertemuan itu berlangsung. Sementara posisi Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara) makin tajam terhadap Negara Vietnam (Vietnam Selatan).

Pertemuan Jenewa itu sangat strategis. Pasalnya, bila saja gagal, konflik diduga akan menyeret seluruh kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, sejumlah negara eks koloni Inggris menginisiasi pertemuan multilateral di Colombo, Sri Lanka guna mencari jalan tengah bagi ancaman keamanan regional mereka.

Sosok penting di balik Perang Indochina adalah salah satunya Hồ Chí Minh.

Friday, June 8, 2018

Workshop Ramadan


#Repost @kaka_cafe • • • Adalah kebahagian bagi banyak orang bisa kenal dengan Pak Desmond Satria Andrian, apalagi bisa belajar darinya langsung terkait geopolitik internasional.

Karena itulah KabarKampus.com menghadirkan beliau untuk berbagi perspektif dengan teman-teman muda Bandung memahami dunia yang semakin kompleks ini.

Dalam kelas limited di @KaKa_cafe ini, teman-teman seperti mendapatkan sepercik sinar Lailatul Qadar dalam memandang dunia. Horison terasa lebih luas dan jelas. Rongga dada menjadi semakin besar, tidak mudah sesak lagi.

Tampak di foto, direktur kabarkampus.com @FurqanAMC menyerahkan sertifikat sebagai tanda terima kasih kepada Pak Desmond atas dedikasinya dan sebagian peserta hadir mewakili yang lainnya.

Terima kasih Pak Desmond.

#sisteminternasional #internasional #workshop #workshopramadhan #ekonomi #politik #ekonomipolitik #bandung #eventbandung #kafe #kafebandung #mahasiswabandung #mahasiswibandung #intelektualbandung #aktivisbandung

Bulan Puasa di Negeri Singa

Konon pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, International Office pertama yang dimiliki pemerintah Indonesia di luar negeri adalah di Singapura.

Demikian buku Sejarah Diplomasi Indonesia terbitan Kemenlu tahun 1992 mengungkapkan upaya diplomasi perjuangan yang ditempuh dalam periode Revolusi Fisik untuk mendapatkan pengakuan de facto dan de jure.

Dari International Office ini juga pada masa itu tercatat sejumlah aktifitas pembelian senjata sisa Sekutu untuk memperkuat perlawanan bersenjata di tanah air. Senjata dibawa menggunakan kapal kecil yang disamarkan seperti kapal nelayan biasa.

Sayangnya, aktifitas itu terbongkar oleh NICA. Bung Hatta segera diutus oleh Bung Besar ke New Delhi untuk membeli sisa senjata Sekutu lainnya tapi Jawaharlal Nehru tak bersedia lantaran khawatir beresiko perang terbuka dengan Sekutu. Pasalnya, peristiwa terbongkarnya jual beli senjata di Singapura oleh media dan NICA bakal merembet ke India. Padahal India dan Sekutu sedang dalam tahap penyelesaian akhir sisa Perang Dunia II.

Namun, Nehru berjanji kelak membantu upaya pengakuan kedaulatan Indonesia dan janjinya tunai terbukti pada perhelatan Inter Asia Relation Conference di New Delhi yang dihadiri oleh PM Sutan Sjahrir.

Dalam pertemuan multilateral pertama bangsa-bangsa Asia itu PM Sjahrir pertama kali mengutarakan konsep politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

Dah segitu aja.

Tuesday, June 5, 2018

Reuni Ciumbuleuit



Keterangan Foto:
 Dari kanan ke kiri: Sapta Dwikardana, Ph.D., Kaprodi HI Unpar Sylvia Yazid, Ph.D., Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie, M.DAT, Rektor Unpar Mangadar Situmorang, Ph.D., Direktur Informasi dan Media Kemenlu Listiana Operananta, Sukawarsini Djelantik, Ph.D., Anggia Valerisha, M.Si, dan Bujang Ringam Nian.

===

Tuhan mungkin telah mengirimkan Mas Mangadar untuk mengabarkan kerendahan hati dalam berilmu kepada saya dan Oppa Lee jauh sebelum Beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Katolik Parahyangan.

Alkisah usai UTS, saya duduk diam termenung di kelas Beliau sambil membolak balik lembar jawaban UTS yang makin lusuh lantaran dibaca berulang kali. Di sisi kanan saya terdengar dengus nafas dari seorang oppa-oppa asal Korea Selatan yang kebetulan sama-sama sedang ‘ngangsu elmu lan kaweruh’ dari Beliau.

“Dapat berapa kamu?” ujar Oppa Lee yang konon kemudian hari jadi salah seorang pejabat teras di Kementerian Reunifikasi di Negeri Ginseng kepada saya sambil menatap nanar.

“(dapat) 33!” balas saya dengan suara tak bergairah. “Kamu (dapat) berapa, Oppa?” timpal saya kepadanya.

“Haha...saya (dapat)30!” jawabnya dengan lirih.

“Ah, ada yang lebih kecil lagi,” saya bergumam dalam hati sambil tertawa geli.

Sejak itu, kami makin jarang bertemu akibat (mungkin) masing-masing sibuk berkontemplasi demi transformasi dari wujud ‘jejaden jalmi’ menjadi ‘manungsa’ agar menjadi manusia yang seutuhnya sekaligus beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Usai sesi foto bersama pekan lalu, Mas Mangadar dengan gayanya yang bersahaja seperti biasa menghampiri saya sambil berujar, “Mana surat rekomendasi yang aku harus teken? Katanya mau ke Sorbonne?”

Pertanyaan ini terasa lebih berat dari soal UTS di kala silam bersama Oppa Lee.

Dah segitu aja.